Friday, September 16, 2011

DEPRESI

0
Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri.
Penyebab suatu kondisi depresi meliputi:
  • Faktor organobiologis karena ketidakseimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin
  • Faktor psikologis karena tekanan beban psikis, dampak pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial
  • Faktor sosio-lingkungan misalnya karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, paska bencana, dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya
Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika: A. Lima (atau lebih) gejala di bawah telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu.
  1. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis).
  2. Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain)
  3. Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan)
  4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
  5. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat)
  6. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari
  7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar (bisa merupakan delusi) hampir setiap hari
  8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain)
  9. Berulang-kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati), berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri
Gejala-gejala tersebut juga harus menyebabkan gangguan jiwa yang cukup besar dan signifikan sehingga menyebabkan gangguan nyata dalam kehidupan sosial, pekerjaan atau area penting dalam kehidupan seseorang.
Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan pasien, namun biasanya merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling. Dukungan dari orang-orang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan.

Sumber : http://id.wikipedia.org

Thursday, September 15, 2011

GEJALA SKIZOFRENIA

0
Pada seseorang yang mengalami skizofrenia mengalami perubahan perilaku, diantaranya :
  • Menarik diri dari relasi sosial
  • Depersonalisasi (kecemasan intens dan perasaan menjadi tidak nyata) 
  • Kehilangan nafsu makanKehilangan kebersihan 
  • Delusi
  • Halusinasi (misalnya, mendengar hal-hal tidak benar-benar hadir) 
  • Rasa yang dikendalikan oleh kekuatan luar
Menangani orang yang sedang mengalami skizofrenia memang tidak mudah sebab secara fisik terlihat sehat. Namun demikian dari perubahan perilaku yang dialami kita bisa melihat mereka sedang mengalami skizofrenia.

SKIZOFRENIA

0
Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).

Pada pasien penderita, ditemukan penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal.[1]

Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia.

75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.

Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog.

Gejala
Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.

Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:

Gejala-gejala Positif
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
Gejala-gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).

Meski bayi dan anak-anak kecil dapat menderita skizofrenia atau penyakit psikotik yang lainnya, keberadaan skizofrenia pada grup ini sangat sulit dibedakan dengan gangguan kejiwaan seperti autisme, sindrom Asperger atau ADHD atau gangguan perilaku dan gangguan Post Traumatic Stress Dissorder. Oleh sebab itu diagnosa penyakit psikotik atau skizofrenia pada anak-anak kecil harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atau psikolog yang bersangkutan.

Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren.

Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala skizofrenia, misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Sebaliknya, mereka yang normal bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasi. Beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejala-gejala psikosis.

Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.

Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita skizofrenia. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel 1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita skizofrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.


Sumber : http://id.wikipedia.org

Saturday, July 10, 2010

Ada seorang laki-laki yang telah berkeluarga, berumur 37 tahun, anak-anaknya telah menginjak remaja. Ia termasuk orang yang taat beragama, pekerja yang ulet, tidak gampang menyerah. Namun ketika menghadapi masalah selalu menjadikannya seorang yang mudah jatuh tanpa harapan. Marah tanpa sebab, mengurung diri, menangis, dan yang paling menyakitkan adalah istri dan anak-anaknya menjadi sasaran kemarahannya. Setiap kali mengalami hal yang demikian, bisa dipastikan ia akan mengurung diri dari semua kegiatan termasuk bolos kerja.
Beruntung ia masih mau terbuka bercerita kepada orang yang dia anggap bisa dipercayai, keterbukaannya inilah yang memampukan ia kembali dapat menjalani hidup.

Salah satu indikasi dari ketidaksetabilan emosi yang dimilikinya adalah kenangan masa lalu yang selalu membayangi hidupnya sampai sekarang. Kenangan terhadap kedekatannya dengan ibunya yang telah lama meninggal.
Akibat yang ditimbulkan antara lain :
1. Ia selalu ingin menjadi yang paling baik bukan karena diri sendiri atau untuk keluarganya tetapi karena ibunya.
2. Ia selalu merasa ibu masih berada disampingnya, lewat mimpinya, apa yang dilakukan atas hasil pertemuan dengan ibu ketika mimpi.
3. Walaupun sudah dikaruniai istri yang cakap, tetapi tetap saja ada yang kurang. Ia selalu membandingkan istrinya dengan ibunda yang telah meninggal.
4. Mendidik anak-anaknya diukur dari apa yang pernah dilakukan oleh ibunya.

Kedekatan seorang ibu kepada anak memang sungguh baik, tetapi jika kedekatan tersebut menjadikan anak tidak bisa menjadi dirinya sendiri, akan berakibat seperti yang dialami oleh lak-laki tersebut. Terjadi ketidakstabilan emosi ketika menghadapi masalah.
Orang yang sehat mental harus bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu, bayang-bayang kenangan kedekatan dengan sosok ibu yang sangat berpengaruh terhadap diri seseorang atau dengan bayang-bayang masa lalu yang lain.
Kalau hal seperti ini terjadi kepada Anda, hal paling penting yang harus dilakukan adalah :
1. Menerima kenyataan bahwa ibu yang dahulu sangat menyanyanginya, mendekapnya ketika merasa ada masalah sudah tidak ada lagi di sampingnya. Menerima kenyataan kehilangan memang tidak mudah, tetapi tetap harus dilakukan.
2. Menerima kenyataan bahwa hidupnya sekarang adalah hidup bersama keluarga, baik keluarga dalam lingkungan saudara-saudaranya yang lain atau dengan keluarganya dimana ia menjadi suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya.
3. Keberhasilan, kerja keras, kegiatan lain yang dilakukan bukan karena ingin sesuai dengan kenangan masa lalu, tetapi karena memang harus dilakukan demi kehidupan di masa depan. Seseorang yang telah berhasil memang tidak bisa lepas dari masa lalu, tetapi cara berpikir untuk meraih keberhasilan bukan berdasarkan kenangan masa lalu tetapi atas harapannya di masa yang akan datang.

Setiap orang tidak bisa lepas dari masa lalunya, demikian pula tidak bisa dipisahkan dengan harapannya terhadap masa depan. Keduanya secara positif bisa merupakan penyeimbang hidup dan sekaligus sebagai penyemangat hidup. Jika yang diingat adalah hal-hal yang positif dan yang diharapkan dipertaruhkan ke dalam tangan genggaman Sang Pencipta.
Namun jika tidak, yang terjadi banyak orang yang tidak bisa menerima kondisi hidup yang dijalani sekarang (artinya hari ini). Sehingga dampaknya bermacam-macam seperti menyalahkan kondisi sekelilingnya, orang-orang yang ada di dekatnya, jika bekerja tidak bisa maksimal dan lebih produktif, menyesali apa yang sekarang terjadi, ingin selalu mengenang yang sudah terjadi.
Ragu terhadap masa depannya sendiri, ragu apakah ia mampu melakukan dengan baik, ragu bahwa masa depan ada harapan.

Untuk menjadi sehat mental, mau tidak mau, Anda harus mampu menerima kondisi sekarang yang perlu Anda lakukan adalah :
1. Menerima kondisi sekarang, sekarang Anda ada, bisa berkarya, hidup berkeluarga, hasil yang anda dapat, perkara yang anda hadapi, terima dengan lapang dada.
2. Kondisi sekarang pasti lebih baik dari kemaren, belajarlah untuk menjalaninya dengan sepenuh hati dan rasa syukur, karena hari ini memang lebih baik daripada kemaren.
3. Apapun yang sudah terjadi sekarang adalah hasil karya Anda yang paling baik di masa lalu, dalam kekurangan atau kekilafan anda sekalipun, hari ini adalah hasil karya anda yang paling baik.
4. Walapun kondisi sekarang dalam pikiran dan perasaan Anda tidak lebih berbeda dengan kemaren, artinya sama saja. Jangan terjebak hanya pada pikiran dan perasaan anda yang demikian, cobalah untuk keluar dari pikiran dan perasaan demikian. Coba hal-hal baru yang mungkin saja terlewatkan atau sama sekali belum tersentuh dalam pikiran dan perasaan anda.

Tindakan praktis yang perlu Anda lakukan supaya anda sehat mental dari kondisi sekarang :
Anda coba ya hari ini, ketika bangun pagi jangan bergegas meninggalkan tempat tidur, ambil napas dalam-dalam dan sugesti diri anda sendiri, bahwa hari ini dengan kondisi apapun yang terjadi, pasti ada sesuatu yang berguna bagi diri anda, ada sesuatu yang dapat anda raih untuk masa depan Anda.

Monday, March 22, 2010

Fobia Klinis

0
Sebagian besar psikolog dan psikiater mengklasifikasikan menjadi tiga kategori:
1. Sosial fobia - ketakutan yang melibatkan orang lain atau situasi sosial seperti kinerja kecemasan atau ketakutan akan malu dengan pengawasan dari orang lain, seperti makan di depan umum. Fobia sosial dapat dibagi lagi menjadi:
• Fobia sosial umum, juga dikenal sebagai gangguan kecemasan sosial, dan
• Fobia sosial tertentu, yang dipicu kasus kecemasan hanya dalam situasi tertentu. Gejala-gejala dapat memperpanjang untuk manifestasi psikosomatik masalah fisik. Sebagai contoh, penderita paruresis sulit atau tidak mungkin untuk buang air kecil di tingkat mengurangi privasi. Yang melampaui pilihan belaka. Jika kondisi pemicu, orang secara fisik tidak dapat mengosongkan kandung kemih.

2. Spesifik fobia - ketakutan dari satu memicu kepanikan tertentu seperti laba-laba, anjing, lift, air, terbang, menangkap penyakit tertentu, dll
• Agoraphobia - generalized takut meninggalkan rumah atau akrab kecil 'aman' daerah, dan kemungkinan serangan panik yang mungkin mengikuti. Agoraphobia adalah satu-satunya fobia secara teratur diperlakukan sebagai kondisi medis.
Menurut Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV), fobia sosial, fobia spesifik, dan agoraphobia adalah sub-kelompok gangguan kecemasan.
Banyak fobia spesifik, seperti takut anjing, ketinggian, laba-laba dan sebagainya, adalah perpanjangan dari rasa takut yang banyak orang miliki. Orang dengan fobia ini khusus menghindari entitas mereka takut.
Fobia tingkat keparahan berbeda-beda di antara individu-individu. Beberapa individu dapat dengan mudah menghindari topik ketakutan dan mereka relatif ringan hanya menderita kecemasan atas rasa takut itu. Lain sepenuhnya-benar menderita serangan panik terkait dengan menonaktifkan semua gejala. Kebanyakan individu memahami bahwa mereka sedang menderita dari rasa takut yang tidak rasional, tapi tidak berdaya untuk menimpa reaksi awal mereka panik.
Fobia pada anak-anak
Ketakutan yang berlebihan
Parah ketakutan yang hadir di sekitar 10-15% dari anak-anak dan fobia spesifik ditemukan di sekitar 5% dari anak-anak. Anak-anak yang mengalami fobia spesifik takut intens suatu objek atau situasi yang tidak hilang dengan mudah dan terus untuk waktu yang panjang. Anak-anak sering memiliki fobia spesifik yang gelap, varietas serangga, laba-laba, lebah, ketinggian, air, tersedak, ular, anjing, burung, dan hewan lainnya. Bagi banyak anak, ketakutan dan fobia ini mengganggu dan partisipasi mereka dalam menikmati berbagai kegiatan. Mungkin juga mengganggu pendidikan mereka, kehidupan keluarga, atau kehidupan sosial mereka. Namun, tersedia pengobatan yang efektif untuk anak-anak yang mengalami fobia.
Perawatan
Beberapa terapis menggunakan citra virtual reality atau latihan untuk menurunkan rasa mudah terpengaruh pasien untuk entitas yang ditakuti. Ini adalah bagian dari terapi desensitisasi sistematis.

Terapi perilaku kognitif (CBT) dapat bermanfaat. Terapi perilaku kognitif memungkinkan pasien memahami siklus negatif pola pikir, dan cara untuk mengubah pola pikir ini. CBT dapat dilakukan dalam kelompok pengaturan. Desensitisasi bertahap CBT perawatan dan sering berhasil, asalkan pasien bersedia untuk bertahan beberapa ketidaknyamanan dan membuat upaya terus-menerus selama jangka waktu yang panjang.
Anti-kecemasan atau obat anti-depresi bisa membantu dalam banyak kasus. Benzodiazepin dapat diresepkan untuk penggunaan jangka pendek.
Pilihan pengobatan ini tidak saling eksklusif. Seringkali seorang terapis akan menyarankan beberapa perawatan.
Non-kondisi psikologis
Kata "fobia" mungkin juga menandakan kondisi selain ketakutan. Sebagai contoh, meskipun istilah berarti penyakit anjing gila takut air, hal itu mungkin juga berarti ketidakmampuan untuk minum air karena sakit, atau dapat digunakan untuk menggambarkan suatu senyawa kimia yang repels air. Demikian juga, istilah ketakutan dipotret dapat digunakan untuk menentukan keluhan fisik (yakni keengganan untuk menyalakan karena radang mata atau murid terbelalak berlebihan) dan tidak selalu menunjukkan rasa takut cahaya.
Non-klinis menggunakan istilah
Adalah mungkin bagi individu untuk mengembangkan fobia atas apa pun. Nama fobia umumnya berisi kata Yunani untuk apa ketakutan pasien ditambah akhiran-fobia. Membuat istilah-istilah ini adalah sedikit dari permainan kata. Beberapa istilah ini ditemukan dalam literatur kedokteran. Namun, hal ini tidak selalu membuat non-kondisi psikologis.
Persyaratan yang menunjukkan prasangka atau diskriminasi kelas
Sejumlah istilah dengan akhiran-phobi terutama dipahami sebagai sikap negatif terhadap kategori tertentu orang atau hal lain, digunakan dalam analogi dengan penggunaan medis istilah. Biasanya jenis ini "fobia" yang digambarkan sebagai ketakutan, tidak suka, penolakan, prasangka, kebencian, diskriminasi, atau permusuhan terhadap objek dari "fobia". Sering kali sikap ini didasarkan pada prasangka dan merupakan kasus khusus xenofobia umum.

Diskriminasi kelas tidak selalu dianggap sebagai fobia dalam arti klinis karena diyakini hanya merupakan gejala dari masalah-masalah psikologis lain, atau hasil dari ketidaktahuan, atau keyakinan politik atau sosial. Dengan kata lain, tidak seperti fobia klinis, yang biasanya berkualitas dengan menonaktifkan ketakutan, diskriminasi kelas biasanya memiliki akar dalam hubungan sosial.
Di bawah ini adalah beberapa contoh:
• Chemophobia, prasangka terhadap zat buatan mendukung 'alami' zat.
• Christianophobia, ketakutan atau kebencian orang Kristen atau Kristen.
• Ephebophobia, ketakutan kaum muda atau remaja
• Homofobia, rasa takut, tidak suka, atau kebencian orang-orang homoseksual, sering digunakan untuk menggambarkan pengertian yang merendahkan keberatan moral homoseksualitas.
• Islamofobia, ketakutan-induced prasangka terhadap muslim atau budaya Islam.
• Xenofobia, takut atau tidak suka orang asing atau yang tidak diketahui, sering digunakan untuk menggambarkan keyakinan politik nasionalis dan gerakan

Fobia

0

Pernahkah Anda mengalami perasaan takut yang berlebihan pada sesuatu, peristiwa tertentu atau makhluk tertentu ? Jika ya berarti Anda mempunyai gejala fobia. Bila ketakutan yang berlebihan ini berlangsung terus menerus dan efeknya sangat panjang bahkan ada yang sampai seumur hidup, maka itu artinya Anda sedang menderita penyakit mental yang disebut Fobia. Apa itu Fobia ?
Fobia  berasal dari bahasa Yunani φόβος "Phobos" berarti Takut. Ketakutan ini muncul dikarenakan perasaan irasional, terus-menerus takut situasi tertentu, objek, kegiatan, atau orang. Gejala utama gangguan ini adalah perasaan yang berlebihan, keinginan yang tidak masuk akal untuk menghindari subjek yang ditakuti.
Fobia (dalam arti istilah klinis) adalah bentuk paling umum dari gangguan kecemasan. Sebuah studi di Amerika oleh National Institute of Mental Health (NIMH) menemukan bahwa antara 8,7% dan 18,1% dari orang Amerika menderita fobia. Penelitian ini menemukan bahwa fobia adalah penyakit mental yang paling umum di kalangan wanita di semua kelompok usia dan yang kedua, penyakit yang paling umum di antara pria yang lebih tua dari 25.
Apa Penyebab dari Fobia ?
Umumnya penyebab Fobia muncul dari kecenderungan kombinasi peristiwa eksternal dan internal. Contohnya seperti Arachnofobia (takut laba-laba) dan ophidiophobia (takut ular) Namun, juga bisa timbul karena evolusi manusia, sifat yang dikondisikan takut makhluk tertentu yang dapat menyebabkan menyakiti mereka.
Dalam eksperimen terkenal, Martin Seligman mencoba bereksperimen dengan cara pengkondisian klasik yang digunakan untuk membangun fobia ular dan bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan waktu jauh lebih sedikit guncangan untuk menciptakan tanggapan yang merugikan dengan gambar ular daripada gambar bunga. Kesimpulan dari penelilitan tersebut bahwa benda-benda tertentu mungkin memiliki predisposisi genetik dikaitkan dengan ketakutan.
Sebenarnya banyak fobia spesifik yang dapat ditelusuri kembali dan biasanya ditemukan bahwa pengalaman traumatis pada usia dini menjadi factor pemicu. Selain itu, dipercaya bahwa keturunan, genetika, dan kimia otak bersamaan dengan pengalaman hidup memainkan peran utama dalam perkembangan gangguan kecemasan dan fobia.
 
Penggunaan Istilah Lain
Fobia juga digunakan dalam pengertian non-medis untuk mem-benci segala macam. Istilah-istilah ini biasanya dibangun dengan akhiran-fobia. Sejumlah istilah ini menggambarkan sikap negatif atau prasangka terhadap subyek bernama. Lihat Non-klinis penggunaan istilah di bawah ini.

Sisi anatomis fobia
Fobia lebih sering daripada tidak terkait dengan amigdala, suatu wilayah otak yang terletak di belakang kelenjar hipofisis di [sistem limbik]]. Amigdala mengeluarkan hormon yang mengontrol ketakutan dan agresi, dan membantu dalam penafsiran emosi ini dalam ekspresi wajah orang lain. Ketika rasa takut atau respons agresi dimulai, amigdala melepaskan hormon ke dalam tubuh untuk membuat tubuh manusia menjadi suatu "tanda" negara, di mana mereka siap untuk bergerak, berlari, berkelahi, dll
Penelitian telah menunjukkan perbedaan antara siklus respon dari orang-orang menghadapi objek fobia dan mereka yang menghadapi objek yang berbahaya yang tidak memicu fobia-seperti tanggapan. Dalam satu kasus, pasien dengan Arachnofobia diperlihatkan gambar seekor laba-laba (ketakutan objek) dan ular (gambar kontrol, yang dimaksudkan untuk mendorong respon normal). Ketika menyala, yang menjawab dengan singkat arachnophobe takut kepada ular, tapi dengan cepat amigdala menutup ketika wilayah logis pemikiran yang lebih tinggi menganalisis ancaman dan memerintah itu sebagai tidak penting. Namun, ketika ditunjukkan laba-laba, yang arachnophobe's amigdala bereaksi, dan kemudian tidak berhenti mengeluarkan 'alarm' hormon, bahkan setelah mereka dirasionalisasi situasi mereka masuk

Untuk alasan ini, fobia umumnya diklasifikasikan sebagai gangguan panik oleh kebanyakan psikolog, karena melibatkan yang tidak wajar atau tidak logis fungsi otak.

Friday, January 22, 2010

Ciri Orang Yang Sehat Mental

0
Betulkah Anda sehat mental ? Apa yang menjadi ciri kalau seseorang sehat mentalnya ?
Memang tidak bisa orang lain yang memberi nilai bahwa diri kita sehat mental, sekalipun dapat dirasakan akibatnya dari tindakan anda.
Yang tahu bahwa anda benar-benar sehat adalah diri anda sendiri. Tapi di bawah ini paling tidak bisa disebut bahwa seseorang mempunyai sehat mental :
  1. Selalu Murah Senyum, adalah tanda bahwa ia mampu menerima segala perkara hidupnya dengan baik. 
  2. Selalu bersyukur kepada Tuhan. Memang tidak mudah untuk bisa bersyukur kepada Tuhan, apalagi di tengah himpitan hidup yang berat. 
  3. Berpikir positif. Cara orang berpikir mempengaruhi apa yang mereka lakukan. Di tengah pekerjaan menumpuk, waktu yang serasa memburu, bertemu dengan orang-orang yang selalu negatif. berpikir negatif akan memperingan pikiran dan pekerjaan dan santai menghadapi orang-orang yang berpikir dan berperilaku negatif 
  4. Berjiwa besar. Tidak semua orang mempunyai jiwa besar ketika menghadapi masalah, tetapi hanya orang yang berjiwa besar mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik.

Wednesday, January 6, 2010

Sehat Mentalkah Anda ?

0
Di tengah himpitan ekonomi yang berat, ditengah masalah hubungan personal yang tidak tulus, di tengah perkara hidup lain yang memberatkan memang tidak mudah untuk terus menjaga kesehatan mental.
Hidup kita sekarang ini rentan dengan berbagai penyakit mental. JIka tidak kuat akan semakin menambah penghuni RS Jiwa.
Melalui blog ini saya ingin berbagai pengalaman dan ilmu tentang sehat mental